Rahasia Mengatasi Kemacetan di Jepang

Apa sih yang ada di benak anda ketika mendengar kata ‘Jakarta’? Terutama buat anda yang setiap pagi mengarungi arus lalu lintas, mungkin saat mendengar kata ‘Jakarta’ anda akan langsung mengaitkannya dengan kemacetan. Berbagai jenis kendaraan berkumpul memadati jalanan kota metropolitan tersebut. Mulai dari bis kota hingga bermacam-macam jenis kendaraan pribadi seperti Mitsubishi Mirage, dan lain-lain.

Jakarta memang terkenal dengan jumRahasia Mengatasi Kemacetan di Jepanglah populasinya yang menakjubkan hingga mencapai sepuluh juta jiwa. Tak heran jika setiap rush hour anda harus menguji kesabaran anda dengan menghadapi kemacetan. Akan tetapi pernahkah anda membandingkan kota Jakarta dengan kota lain yang tidak kalah padat? Dengan Tokyo misalnya. Tokyo juga merupakan pusat kegiatan di Jepang yang sangat ramai, namun masalah kemacetan rupanya bukan menjadi hal yang utama disana.

Lalu bagaimanakah cara jitu negara Jepang tersebut untuk mengatasi masalah kemacetan? Rahasianya adalah masyarakat disana lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum dibanding dengan mengendarai mobil pribadi yang memakan banyak space di jalanan. Mengapa seperti itu? Ternyata setelah mampu membeli mobil pribadi yang keren, masyarakat Jepang dibebani oleh biaya mahal lainnya seperti biaya uji emisi, pajak, parkir dan tol.

Setiap mobil di Jepang wajib memiliki stiker sertifikasi uji emisi. Mobil yang baru dibeli harus mengikuti uji emisi dengan batas waktu tiga tahun, setelah itu uji emisi dilakukan setiap dua tahun sekali. Uji emisi ini dilakukan agar kendaraan dan suku cadang tetap dalam keadaan prima sehingga menjaga performa kendaraan. Memang prosesnya tidak terdengar rumit, namun biaya untuk proses uji emisi ini sangatlah besar bahkan lebih mahal dari biaya membeli mobil baru.

Kemudian semakin lama usia mobil, semakin mahal pula pajak yang harus dibayar. Belum lagi masalah biaya parkir dan tarif tol. Jika di Jakarta biaya parkir sekitar Rp. 5000,-/jam saja sudah terbilang mahal, di Jepang biaya parkirnya bisa mencapai Rp. 25.000,-/jam loh! Setelah ini, jangan kaget mendengar tarif tol disana ya, tarif tol yang dipungut bisa mencapai Rp. 100.000,-. Bayangkan jika biaya semahal itu harus dibayar oleh pemilik mobil pribadi di Jakarta. Wah, bisa-bisa jalanan di kota Jakarta bakalan sepi hehe. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa masyarakat Jepang jarang yang memiliki mobil pribadi dan lebih sering menggunakan kendaraan umum.

Pantas saja jarang terlihat ada kemacetan di Jepang, ternyata jumlah mobil pribadi disana jumlahnya tidak sebanyak yang kita jumpai di Jakarta. (Rima)

Leave a Reply