Maaf, Satu Kata Sederhana Penuh Makna

Tahu gak sih kalo kata “Maaf” itu punya makna yang penting?

Hmm,,, sebenernya aku gak pernah curhat di blog ini, tapi berhubung menurut aku ini cukup menjadi pengalaman yang berharga, jadi aku putusin buat nulis aja. Dari cerita ini, aku harap kalian akan ngerti betapa pentingnya untuk mengucapkan kata “Maaf”.

Cerita ini, adalah pengalaman  aku dengan staff di stasiun Gondangdia, terkait masalah gelang KMT.

Tanggal 12 April 2016 (Pagi)

Karena aku kerja di daerah Thamrin, setiap pagi aku pasti naik kereta gelang KMTdari Bekasi dan turun di Stasiun Gondangdia. Hari itu, yah seperti biasanya, aku turun ddari kereta, dan nge tap out gelang KMT di gate untuk keluar dari stasiun. Sayangnya, di gate ternyata gelangnya error, dan justru muncul tulisan “Tidak di kenal”. Akhirnya, aku minta bantuan ke petugas untuk ngetap supaya bisa keluar.

Iseng-iseng, aku nge tweet ke twitter CommuterLine, dengan bunyi “Mohon kualitas Gelang CL diperbaiki, karena sering tidak dikenal saat tap in atau tap out. Makasih.”. Dan, jawaban dari admin pun cukup baik, admin meminta maaf atas ketidaknyamanannya dan minta aku untuk lapor ke staff biar dilakukan pengecekan.

Tanggal 12 April 2016 (Sore)

Nah, di sini nih mulai permasalahannya. Pas aku mau pulang, aku udah mikir, mau diurus atau gak yah gelangnya? Tapi, karena males, tadinya udah gak mau diurus dan mau langsung pulang aja. Ternyata, pas mau di tap in, gagal lagi karena tidak dikenal. Berhubung lagi ada staff cewe yang nganggur di pojokan gate, ya sekalian aja aku tanyain. Aku bilang, kalo gelangnya sering gak dikenal pas di tap. Tapi, dengan nada keselnya, dia malah nyoba nge tap di gate deket dia, terus bilang “ini bisa kok mba”. Padahal aku udah jelasin, kalau errornya cuma kadang-kadang.

Setelah ngotot-ngototan (dia pake nada kesel, dan aku masih pake nada yang berusaha tetep tenang), akhirnya diuruslah diruang staff. Di ruang staff, staff cewe itu bilang ke staff yang cowo (tetep dengan nada kesel yang menurutku sama sekali gak sopan), katanya “Nih, kata mbak nya gelangnya sering gak dikenal. Padahal tadi di coba sih bisa”. Akhirnya sama staff cowo itu, gelang aku di cek. Setelah di cek, dia bilang “Kalau mau, gelangnya diganti mba, tapi kena biaya penggantian Rp. 50.000,-”.

Mulai kesel nih, yah sama aja kan kayak beli gelang baru. Tapi staff cowo nya bilang “Kalo mba ganti gelang, kan saldonya bisa dipindahin ke gelang yang baru”. Yah tapi kan harus bayar 50ribu, dikira duit segitu kecil kali yah. Mulailah debat lagi, sampe itu staff cewe ngomong, “Mba, makanya harusnya kalau beli barang apa-apa itu, ditanya ada garansinya gak? Berapa lama garansinya.” (dengan nada yang semakin menyebalkan dan justru nada menyalahkan). Pas aku jawab lagi kalo seharusnya ada info sejak awal mengenai garansi (udah dengan nada penuh emosi), itu staff cowo bukannya nenangin suasana, malah nambah bikin kesel dengan bilang “Mbaknya kan beli gelang ini bulan Maret, padahal ini gelang launch bulan April. Jadi kita memang belum bisa kasih info jelas.”. Nah loh… jadi semuanya itu karena aku yang salah? Dan akhirnya, aku nyerah ngadepin 2 staff yang menurutku gak beretika itu dan memutuskan untuk pulang.

 

Cukup kali ini aja aku beli produk dari CommuterLine, dan gak akan pernah lagi. Apapun produknya. Dan kalian para pembaca, waspada terhadap produk apapun yang kalian beli, tanya pasti garansinya berapa lama. Langsung urus begitu nemuin kerusakan, walaupun kerusakan kecil. Dan kalau staff nya tipenya sama kayak yang aku temuin, yah siap2 aja nahan emosi. hehehe

 

Tapi…. sesuai judul artikel di atas. Tahu gak sih kalau sebenernya ada satu kata yang aku tunggu dari mereka berdua? Yaitu kata “Maaf”. Kalau aja sejak awal si staff perempuan gak langsung ngadepin dengan nada yang sopan dan bilang “maaf atas ketidaknyamanannya, mari ikut ke ruang staff untuk dilakukan pengecekan”, aku gak akan semarah itu. Semua bakal bisa di selesaikan baik-baik. Tapi berhubung mereka berdua justru sekuat tenaga berusaha keras mencari alasan supaya aku, sebagai konsumen, adalah pihak yang salah, jadilah emosinya gak bisa ditahan.

Yah, mungkin mereka berdua belum pernah menghadapi komplain dari konsumen. Atau, sejak kecil mereka berdua memang gak pernah mengucapkan kata “Maaf” seumur hidupnya. Entahlah, tapi apapun masalahnya, ketika berhadapan dengan komplain dari konsumen ada baiknya jika mengucapkan kata ini, barulah mencari tahu lebih lanjut permasalahannya. (Vita)

Leave a Reply